Pemerasan Berkedok Wartawan

Baru saja membuka mata karena tidur siang saya terganggu oleh keringat yang sudah mulai membasahi tubuh. Cuaca siang itu memang terasa panas menyengat. Akhirnya saya menyerah. Saya kembali ke ruangan saya. Meskipun tidak ber-AC namun setidaknya masih ada kipas angin di ruangan kerja saya. Ketimbang bersauna di ruangan yang sering saya jadikan tempat tidur siang karena penghuninya selalu sibuk dinas luar negeri.

Setibanya diruangan saya, ternyata meja kerja saya yang selalu tak bisa rapi meskipun dirapikan berkali kali itu sudah diisi oleh seseorang yang sama sekali tidak saya kenal. Dan yang jelas bapak yang mengkudeta tempat saya itu bukanlah pegawai kantor karena saya baru sekali melihat beliau. Pula, nampaknya ini bapak bukanlah pejabat negara karena tidak pakai seragam meskipun saat itu sedang jam kerja.

Salah seorang rekan seruangan saya berkata pada saya; tolong bantu bapak itu mengetik suratnya di komputer. Pikiran saya, ini bapak berwajah agak sopan tentunya salah seorang kerabat handai taulan daripada rekan seruangan saya yang meminta tolong saya mengetikkan surat di komputer yang cuma ada satu di ruangan itu.

Ternyata saya salah. Bapak ini adalah pemimpin redaksi dari sebuah media cetak konvensional alias koran. Nama korannya sendiri saya tidak perlu sebutkan. Alamak? Pemred koran ga bisa mengetik? Saya sendiri tidak yakin beliau itu pemred sampai beliau menunjukkan sendiri bahwasanya yang menandatangani surat yang saya ketik itu adalah beliau sendiri sambil membantu saya mengejakan nama beliau.

Saya tentunya tidak mudah percaya begitu saja. Selepas beliau berlalu saya menanyakan kepada rekan seruangan yang meminta saya membantu bapak tadi. “Apakah bapak tadi benar benar tidak bisa mengetik?” Jawabannya; IYA! “Saya sudah minta beliau mengetik sendiri, namun beliau berkata beliau tidak bisa mengetik menggunakan komputer” kata rekan seruangan saya. Saya jadi berfikir: Pemred apaan ini??????

Lantas saya tanyakan apa tujuan dari surat tadi, meskipun sebenarnya saya sudah baca sendiri isi surat itu adalah tanda terima alias surat pernyataan sudah menerima sejumlah uang daripada kantor tempat saya bekerja sekarang. Saya hanya ingin melakukan pemeriksaan sekali lagi, hitung hitung meyakinkan diri.

Rekan sekantor saya tadi menjelaskan bahwasanya beliau memang datang atas nama koran yang beliau pimpin dalam rangka meminta dana bantuan untuk operasional koran yang dipimpinnya. Namun menggunakan dalih bahwasanya kantor kami akan memasang iklan alias dipajang di koran tadi. Maka kriterianya kantor kami memasang iklan di sana. Korannya sendiri baru pertama kali saya lihat dan baru kali ini saya kenal namanya.

Itu kejadian sebelum bulan puasa. Hari ini, bos kantor menjelaskan bahwasanya koran koran macam itu memang banyak bertebaran. Mereka cuma terbit ketika ada perayaan macam perayaan Kemerdekaan RI, ulang tahun suatu Kabupaten atau Kotamadya hingga hari hari besar keagamaan. Hidup mereka ya tergantung dari apa yang mereka sebut pemasangan iklan sebagai kedok pemerasan itu tadi.

Modus operandinya adalah dengan datang membawakan satu edisi koran yang sudah ada ucapan selamat dan atau turut mengucapkan daripada kantor yang ingin dimintai dana. Juga mereka mengajukan penawaran pemasangan iklan. Kata penawaran iklan ini sendiri hanya sekedar formalitas karena nama kantor yang dikirimi surat semacam kantor saya namanya sudah dipajang semena mena tanpa ijin!

Dan masih pada hari ini. Salah seorang blogger yang juga merupakan peliput pada suatu media konvensional yang beroperasi di Kota Banjarbaru datang ke kantor saya. Mengajukan penawaran iklan juga atas nama koran tempatnya bekerja. Bedanya kali ini nama kantor kami atau nama bos kantor tidak disebutkan langsung secara semena mena.

Hanya saja, wajah salah seorang pegawai kantor kami yang sedang mengikuti suatu acara di Kota Banjarbaru nampang di koran kacangan tersebut. Plus, tampang bos kantor ketika bos kantor sedang mengikuti suatu acara. Rupanya naluri binatang wartawan mereka muncul disaat yang tepat. Sehingga mereka (para wartawan baik yang kacangan, picisan maupun gadungan) sempat sempatnya mengambil foto wajah bos kantor.

Dengan dua foto yang saya sebutkan diatas, maka mereka sudah punya alasan yang layak untuk melakukan pemerasan kepada kantor kami. Atas nama dana sosial hingga lain sebagainya dengan bahasa yang di diplomatiskan mereka tetap saja ujung ujungnya minta duit! Entah itu ongkos bensin, ongkos lelah, biaya peliputan dan lain sebagainya.

Juga, entah kebetulan macam apa ternyata masih dengan koran yang sama seperti yang dideskripsikan terakhir dimana pemimpinnya adalah salah seorang oknum dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Banjarmasin, pada masa yang berdekatan ini juga ternyata salah satu pekerjanya mencoba mewawancarai ibu saya selaku kepala sekolah dengan meminta tanggapan soal libur ramadan. Syukurlah ibu saya menolak dan meminta mereka agar mewawancarai kepala sekolah lain sahaja.

Modus modus pemerasan berkedok waratawan seperti ini tidak bisa dibiarkan. Sayangnya saya bukan pekerja media konvensional yang bisa melakukan perang terhadap mereka, saya cuma seorang blogger, dan melalui media blog inilah saya protes terhadap orang orang pemeras seperti yang saya jelaskan diatas. Mungkin orang orang macam itulah yang layak dideskripsikan seperti kata kata singkat yang disebut salah seorang rekan sebagai pengemis dan penjilat intelektual!

34 Responses to “Pemerasan Berkedok Wartawan”


  1. 1 Pakacil 16 September 2008 at 01:14

    mereka dijuluki sebagai wartawan bodrek, ga tau kenapa julukan itu yg digunakan. Dulu, media tak jelas macam itu kerap digunakan sebagai sarana pengumuman lelang proyekdi pemerintahan.

    Ada di antara mereka yang berkeliling di propinsi ini, dari satu pemda ke pemda lainnya. Belum lagi dari rumah ke rumah pejabat yg mereka anggap kenal. Secara pribadi daku pernah bertemu dengan media dan wartawan macam ini di sejumlah Pemkab di Kalsel.

    Kita menjuluki media macam itu sebagai media tempo-tempo.
    Alias tempo-tempo terbit dan tempo-tempo tak terbit.
    Parah…
    😦

  2. 2 sandi 16 September 2008 at 01:14

    penjilat intektual tuh gak lebih dari manusia berotak kecoak..

  3. 3 ManusiaSuper 16 September 2008 at 04:35

    Seharusnya diambil foto mukanya yang haus darah itu dan dipajang di sini, biar kita lempar batu sama-sama…

  4. 4 ahsani taqwiem 16 September 2008 at 05:05

    Setuju. Rajam az th wartawan an**ng…
    Mereka pd dasarna jg sdh menginjak-injak kode etik wartawan dan harga diri mereka sndri…
    Mari dukung pakacil dlm agenda memberangus penjilat2 mcm ini…
    Jabat erat!

  5. 5 Teddy 16 September 2008 at 05:58

    @mansup: foto wartawan atau foto bosnya farid nih:mrgreen:

  6. 6 nia 16 September 2008 at 08:46

    paling ga suka dengan yang namanya penjilat .. apalagi “penjilat intelek” ke lau az dehhhh

  7. 7 Amed 16 September 2008 at 11:24

    Media apa Rid? Jawab via japri aja…

  8. 8 aap 16 September 2008 at 12:10

    wartawan kaya itu paling sering datang kekantor..kalo bisa semua jangan mau memberi biar kada terbit aja sekalian ngga ada dananya.

  9. 9 itikkecil 16 September 2008 at 13:49

    di sini kalo mendekarti lebaran, pejabatnya memilih menghilang sementara waktu.. ada sih, tapi lebih memilih incognito…
    untuk menghindari wartawan-wartawan yang semacam itu.

  10. 10 Fortynine 16 September 2008 at 16:26

    @Pakacil:

    Dulu, media tak jelas macam itu kerap digunakan sebagai sarana pengumuman lelang proyek di pemerintahan.

    Berarti ada simbiosis mutualisme dunk

    Ada di antara mereka yang berkeliling di propinsi ini, dari satu pemda ke pemda lainnya. Belum lagi dari rumah ke rumah pejabat yg mereka anggap kenal. Secara pribadi daku pernah bertemu dengan media dan wartawan macam ini di sejumlah Pemkab di Kalsel.

    Bahkan mereka juga berkunjung ke kantor kantor polisi guna meliput berbagai acara, atau sekedar cari ongkos

    @sandi: Tapi bisa saja otak mereka sebesar gajah, karena pandai mencari peluang dan memeras

    @ManusiaSuper:

    Seharusnya diambil foto mukanya yang haus darah itu dan dipajang di sini, biar kita lempar batu sama-sama…

    Foto mukanya si blogger yang merangkap jadi wartawan? Ataukah foto pak camat yang ternyata cuma berstatus agak pelit? Soalnya ternyata mash ada camat dan mantan camat lainnya yang lebih pelit daripada pak camat yang sekarang.

    @ahsani taqwiem:

    Mari dukung pakacil dlm agenda memberangus penjilat2 mcm ini…

    Iya, tapi soal mengeluarkan dana buat pemeras ini sampai sekarang masih bukan kebijaksanaan saya

    Jabat erat!

    Ga Sudi! Kamu soalnya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan buat pegang pegang… Pegang Gareth Gate sana

    @Teddy: Pertanyaan dengan makna senada sudah saya ajukan kepada Fadil

    @nia: Trus habis ke laut mereka cocoknya jadi apa ya??:mrgreen:

    @Amed: Ini lho jawabnya….. masa ga bisa nebak sih apa medianya? Kan ada kata kata kunci blogger, dosen, dan media cetak??

    @aap: Ya itu tadi Pak. Saya bukanlah yang membijaksanakan pengeluaran dana

    @itikkecil: Trus kapan para pejabat mau menghamburkan duit dengan kedok dana sosial??

  11. 11 hariesaja 17 September 2008 at 00:48

    Ada satu lagi, bagaimana kalo WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar)?

  12. 12 Mr. Fortynine 17 September 2008 at 07:42

    Perasaan baru kali ini membaca istilah macam itu Pak. Bisa dielaborasi lebih lanjut?

  13. 13 chic 17 September 2008 at 16:18

    emang kalo nama kantornya udah nongol walaupun tanpa izin tetep harus bayar ya? kan ngga pernah minta dipajang.. trus kalo ga mau bayar gimana?

  14. 14 blue 17 September 2008 at 16:58

    kalo pemrednya aja nggak bisa ngetik, gimana anak buahnya ya? hehehe
    biasanya, kalo pasang iklan bukannya ada perjanjian diatas kertas?

    *salam*

  15. 15 Fortynine 17 September 2008 at 17:35

    @chic&blue: Disinilah letak pemaksaannya. Mereka pasang duluan, misalnya kantor saya sebagai yang turut mengucapkan “Selamat Berpuasa”. Pemerasannya dimulai dengan sering datang dan menggangu. Yang lebih parah bisa mengancam akan memberitakan yang jelek jelek

  16. 16 Pakacil 17 September 2008 at 20:17

    Daku baru nyadar bahwa pada tulisan di atas ada nyangkut “media konvensional yang beroperasi di Kota Banjarbaru”.
    Khusus Banjarbaru?
    Banjarbaru Post ya? yg bosnya adalah E, PNS Dosen itu?😀
    hehehehe, saya pernah dengar curhatan salah satu staf lembaga tingkat propinsi, yg pimpinannya dikerjain media itu. (Staf & pimpinannya itu kebetulan saya kenal secara pribadi)😀

  17. 17 Fortynine 18 September 2008 at 00:18

    Secara umum jawabannya adalah YA! Kita lihat saja beberapa hari kedepan. Apakah “mereka” akan melakukan tindakan lanjut

  18. 18 Irfan 18 September 2008 at 04:32

    Sebenarnya dari sisi positifnya mereka memerlukan pekerjaan, hargai mereka utk mencari nafkah, wajarlh dijaman skrg pekerjaan apapun dilakukan, namun HALAL, OK !!!!

  19. 19 ardianto 18 September 2008 at 08:30

    @Irfan:
    Jadi segala cara boleh asal dapat uang? Saya mau dong jadi maling…😛
    Kan maling juga cari sesuap nasi…

  20. 20 ardianto 18 September 2008 at 08:38

    Eh, dah dibilang halal yah? *nggak ngelihat*

    Kalo gitu diganti deh, memeras halal gitu?

  21. 21 reekoheek 18 September 2008 at 21:05

    hihihi… wartawan bodrex itu termasuk dalam kategori virus2 pers.. semenjak keran kebebasan pers dibuka semakin banyak yang seperti ini. mungkin kebebasan ini seharusnya dikontrol dalam sebuah lembaga yang independen dan benar2 peduli terhadap dunia pers.

  22. 22 anna 20 September 2008 at 09:50

    baru tau kalo ada wartawan yang begituan sikap nya..

  23. 23 draguscn 21 September 2008 at 10:03

    ya ampuun bener=bener mewabah dimana-mana ya ..
    Kalo yang datang ke kantor saya biasanya tampangnya gahar-gahar kayak yang mau ngajak berantem gitu .. dan keseringan dengan MO mau mengadakan acara seminar narkoba .. masih mending yayasan-yayasan TNI, kalo datang bawa taplak, kaos dll, kalo preman tinta ini bawanya cuma selembar koran dari media yang antah berantah ..

  24. 24 Julax 22 September 2008 at 16:21

    Kalo ketemu ama yang seperti itu lagi coba lapor ke polisi aja atau ajak kawan – kawan untuk gebukin rame-rame…
    karena kelakuan mereka, nama Journalist Banua tercoreng….

  25. 25 Fortynine 23 September 2008 at 00:22

    @Irfan: Memeras dengan cara keji seperti itu halal? Besok saya jadi wartawan gadungan deh

    @reekoheek: Bagus juga kalau mereka ini diberikan pelatihan agar bisa menjadi pekerja dibidang lainnya

    @anna: Kok bisa? Ga pernah berhubungan dengan wartawan selama ini? Ataukah terlalu banyak berhubungan sehingga membutakan mata hati?

    @draguscn: Sama sama maksa tuh kayanya

    @Julax: Masalahnya bos kantor sangat takut dengan yang namanya publikasi dari pihak media gadungan ini

  26. 26 Guh 23 September 2008 at 02:25

    Jadi kesimpulannya…

    Banjar Baru Post yang dipimpin oleh seorang Dosen yang juga PNS yang miskin lahir batin telah melakukan pemerasan.

    Benar demikian?

    hmm… harusnya dilaporkan saja ke polisi, atau ke asosiasi media setempat. Saya yakin kelompok wartawan sejati tak akan membiarkan nama baiknya dibusukkan dari dalam oleh para gadungan tukang peras.

  27. 27 tira_1984 23 September 2008 at 12:26

    baru tahu ya?
    wartawan kayak gini buanyakk..
    biasanya korannya cuman terbit ga sampe 10 eksemplar..
    modal kecil untungnya gede..

  28. 28 ichal 23 September 2008 at 23:36

    matabanua aja enak..kok..kan ada saya

  29. 29 nindityo 24 September 2008 at 09:01

    selamat datang di real word😀
    dulu lebih parah sih.. sekarang dah mulai banyak yang nolak. dan berani melawan wts semacam ini.

  30. 30 dq 24 September 2008 at 19:55

    Gmn solusinya ya? minta bukti tertulis saja ya kali,atau bukti persetujuan yang ada tanda tangan asli. Atau kalo tdk,bisa beralasan ditunda dulu untuk tahun depan dengan alasan rejeki kantor lagi seret..(kayak rem saja) banyak pengeluaran.
    O ya, pernah juga lho ada kepala sekolah yang kapok dengan yang namanya wartawan. Lantaran wartawan media lokal trsebut memberitakan di media cetak dengan berita yang tidak sesuai kenyataan bahkan ditambahi. Otomatis kepala sekolah tersebut syok dan untungnya tidak begitu berpengaruh terhadap reputasi sekolah (sekolah favorit). Jadi tips untuk lembaga pendidikan yg sekiranya favorit/unggul untuk lebih berhati-hati sekali saat menerima tamu khususnya wartawan. Tips kedua saat berwawancara dengan wartawan bawa saja voice recorder apapun bentuknya bisa mp3 atau aplikasi di hp, yg bisa jadi bukti kalau-kalau terjadi pemberitaan yang tidak benar saat bertandang di markas besar media cetak tersebut.

  31. 31 Sammy_Banjar 24 September 2008 at 22:38

    Memang banyak sih wartawan kayak gitu bozz, tapi nggak semuanya.Kalau wartawan bodrex bolehlah, tapi kalo Wartawan profesional nggak minta apa pun dari narasumbernya.

    Mansyur Syam Alamsyah (wartawan Banjarmasin Post dan Report CNN)

  32. 32 Sammy_Banjar 24 September 2008 at 22:43

    Ak jujur aja bozz, sebagai wartawannggak pernah minta apa pun dari narasumber ak. Toh, ak tetap bisa hidup makmur dengan gaji aku di Kelompok Kompas Gramedia. Nggak nyombong sih, gajinya dah diatas rata rata. Semoga aja nggak disamain dengan bodrex.Toh aku juga ada sambilan jadi wiraswasta. Semoga pembaca nggak nyamain semua wartawan. tks

    Mansyur Syam Alamsyah (wartawan Banjarmasin Post dan Report CNN)

  33. 33 Fortynine 25 September 2008 at 05:53

    @Guh:

    Jadi kesimpulannya…

    Banjar Baru Post yang dipimpin oleh seorang Dosen yang juga PNS yang miskin lahir batin telah melakukan pemerasan.

    Kurang panjang, tambahannya adalah; melakukan pemerasan secara tidak menggunakan kekerasan fisik.

    harusnya dilaporkan saja ke polisi, atau ke asosiasi media setempat. Saya yakin kelompok wartawan sejati tak akan membiarkan nama baiknya dibusukkan dari dalam oleh para gadungan tukang peras.

    Pak Polisi mungkin masih terlalu sibuk mengurusi yang lain, macam keamanan mudik Ramadhan.

    Saya juga yakin wartawan sejati takkan membiarkan namanya dan citranya tercemar. Yang saya tidak yakin adalah; bisakah saya menemukan wartawan yang sejati?

    @tira_1984: Ga baru baru bener si. Cuma sekarang melihat lebih banyak bukti nyatanya

    @ichal: Itu memang sudah diproyeksikan sejak kemaren kemaren Mas Ical

    @nindityo: Hidup yang berani menolak WTS!

    @dq:

    Gmn solusinya ya? minta bukti tertulis saja ya kali,atau bukti persetujuan yang ada tanda tangan asli. Atau kalo tdk,bisa beralasan ditunda dulu untuk tahun depan dengan alasan rejeki kantor lagi seret..(kayak rem saja) banyak pengeluaran.

    Mereka biasanya sudah menyiapkan kuitansi. Kalau alasan banyak pengeluaran sih hanya bisa buat menekan jumlah yang diberikan, bukan untuk membatalkan pemberian. Selama ini yang saya liat begitu adanya.

    Tips dari anda nampaknya layak untuk diamalkan. Terima kasih atas tipsnya ya

    @Sammy_Banjar:

    Memang banyak sih wartawan kayak gitu bozz, tapi nggak semuanya.Kalau wartawan bodrex bolehlah, tapi kalo Wartawan profesional nggak minta apa pun dari narasumbernya.

    Saya percaya itu kok Pak. Saya juga percaya blogger itu pada bijaksana untuk tidak cepat cepat melakukan generalisasi buta.


  1. 1 Tantangan Terbuka « Generasi Biru Trackback on 24 November 2008 at 22:39

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: