Maafkan Saya Pak

Maafkan saya karena sejak kecil saya lebih cenderung memilih pakaiannya para kacang ijo ketimbang pakaian coklat bapak. Sejak kecil saya lebih respek dengan om tentara ketimbang om polisi.

Setelah usia bertambah, saya makin tidak kagum dan tidak hormat dengan polisi. ketika di kantor polisi saya malahan tidak disambut dengan ramah. Ketika mengurus surat keterangan ijasah terbakar kami malah diperas. Bahkan ketika menyerahkan diri baik baik untuk ditilang, malah dibilang melawan petugas.

Saya sadar tidak semua bapak polisi jahat, korup, kasar, dan menunggangi hukum demi kepuasan pribadinya. Saya sudah coba untuk tidak meng-generalisir para preman berseragam.

Ketika saya berusaha untuk mengagumi kinerja polisi, bapak bapak polisi memasukkan narkoba ke kantong pakaian teman saya untuk menjadikannya barang bukti dan kemudian menangkapnya.

Ketika saya berusaha berprasangka baik kepada para polisi ada pengendara yang diberhentikan di jalanan dengan cara dipukul kepalanya. Seorang ibu jatuh dari motornya karena di tangkap paksa oleh pak polisi.

Saya berusaha sadar bahwasanya tidak semua polisi seperti seorang polisi yang suka kasar dan semena mena bahkan dengan WANITA! Saya berusaha menstimulasi otak cerdas saya bahwasanya tidak semua polisi memberhentikan truck karena ingin cari duit tetapi ingin menegakkan hukum.

Saya berusaha meyakinkan diri saya bahwasanya razia kendaraan bermotor adalah murni untuk menertibkan pengguna jalan raya bukan untuk memuaskan perut perut polisi yang mulai membuncit itu.

Tapi entah kenapa saya tak kunjung bisa. Maka dari itu maafkan saya karena dengan sangat terpaksa saya sangat tidak kagum dan tidak merasa perlu menghormati para pak polisi.

Mungkin saya yang terlalu curiga, mungkin saya yang terlalu berprasangka buruk. Atau mungkin anda anda pak polisi yang memang masih banyak yang kotor, kasar, dan kurang ajar?

20 Responses to “Maafkan Saya Pak”


  1. 1 alveean 3 December 2008 at 21:01

    dulu, waktu di daerah, saya pernah liat ada truck yang lewat pos jaga, si sopir langsung ngelempar gumpalan uang ke jalan tanpa menghentikan trucknya, kemudian ada oknum polisi DENGAN SERAGAM GAGAHNYA yang keluar dari pos jaga buat MUNGUT uang itu…

  2. 2 syafwan 3 December 2008 at 21:09

    Polisi… Saya tidak seanarkis anda, walau pernah beberapa kali terkena tilang. Yang membuat saya menggerang adalah kata-kata mereka; sidang di pengadilan repot mas, mending sidang disini. Dan yang lebih mengherankan, saya di tilang karena kurang lengkapnya fasilitas keselamatan. Ban belakang saya nga pake tutup angin. Lalu saya berpikir; yang bodoh itu saya, peraturannya atau polisinya?

  3. 3 adi-permana 3 December 2008 at 22:01

    Anda-anda sebenarnya tidak perlu berpikir klise untuk menghormati siapa atau memilih menghormati yang mana. Yang terpenting, hormati Allah, Nabi Muhammad SAW jika Anda Muslim, kemudian orangtua. Jika sudah bagus rasa hormat kepada setidaknya dua komponen awal, maka Anda tentu akan lebih bijaksana menilai dan menghormati orang lain…….

  4. 4 Catshade 3 December 2008 at 22:24

    Ah, postingan ini membuat pandangan saya mengenai aparat negara makin suram saja…😕

  5. 5 sippaganteng 3 December 2008 at 23:05

    Dasar preman berseragam . . . Jauh2 dr mereka

  6. 6 joesatch yang legendaris 4 December 2008 at 00:09

    @ adi-permana

    anda benar, sih…tapi jika dan hanya jika kalo komentar anda itu berada di tempat lain. kalo di sini, di postingan ini…errrrr…kayaknya komentar anda itu di luar konteks, deh:mrgreen:

    X: kamu pilih duit 1000 rupiah yang kertas atau 1000 rupiah yang logam?
    Y: saya pilih duit 1 milyar!

    kebayang, kan? meski yang dibilang sama Y itu memang yang lebih baik, tapi ya tetap saja keluar konteks, huehe…

  7. 7 Fortynine 4 December 2008 at 01:06

    @alveean:

    dulu, waktu di daerah, saya pernah liat ada truck yang lewat pos jaga, si sopir langsung ngelempar gumpalan uang ke jalan tanpa menghentikan trucknya, kemudian ada oknum polisi DENGAN SERAGAM GAGAHNYA yang keluar dari pos jaga buat MUNGUT uang itu…

    Sebaiknya anda bisa menjelaskan lebih lanjut atau sedikit lebih detail di mana kejadiannya, nanti bisa dibilang tuduhan yang tidak beralasan oleh para keparat aparat.:mrgreen:

    @syafwan:

    sidang di pengadilan repot mas, mending sidang disini

    Yang repot itu pak polisinya. kalau ikut sidang uangnya masuk negara, bukan masuk kantong mereka (mereka pak polisi maksdunya)

    Dan yang lebih mengherankan, saya di tilang karena kurang lengkapnya fasilitas keselamatan. Ban belakang saya nga pake tutup angin. Lalu saya berpikir; yang bodoh itu saya, peraturannya atau polisinya?

    Ya anda.:mrgreen:
    Yang jelas polisinya lebih pandai cari alasan untuk menangkap anda. Walaupun untuk itu mereka harus memperkosa dan menghina hukum.

    @adi-permana: Terima kasih atas ceramahnya Pak. Semoga orang orang yang seperti anda sebutkan itu bisa lebih menghargai dan menghormati tulisan dan ide orang juga ya

    @Catshade: Jangan begitu Pak. Saya ga bilang mereka itu suram kok. Saya cuma berprasangka dan berpandangan bahwasanya mereka itu kotor, korup, dan kasar

    @sippaganteng:😀

    @joesatch yang legendaris: Terima kasih banyak. Sebuah analogi yang sangat bagus Pak Joe. Semoga pesan tersampaikan dan dimengerti oleh penerima pesan

  8. 8 Pakacil 4 December 2008 at 02:24

    ahh… jadi ingat beberapa kali saya pernah membentak polisi.😀
    saat saya bermaksud mengikuti prosedur hukum, eh malah polisinya yang ngajak ‘menginjak’ hukum. luar biasa bukan?

    Pengalaman pribadi yang kemudian juga mengajarkan kepada saya, bahwa berteman dengan polisi itu jauh lebih menguntungkan dari pada tidak kenal atau bahkan menjadi musuh.😀

  9. 9 Fortynine 4 December 2008 at 02:35

    @Pakacil:

    saat saya bermaksud mengikuti prosedur hukum, eh malah polisinya yang ngajak ‘menginjak’ hukum. luar biasa bukan?

    Ya seperti biasa, mereka menunggangi hukum demi perut lapar mereka…..

    Pengalaman pribadi yang kemudian juga mengajarkan kepada saya, bahwa berteman dengan polisi itu jauh lebih menguntungkan dari pada tidak kenal atau bahkan menjadi musuh.

    Pengalaman pribadi juga mengajarkan kepada saya, bahwa berteman dengan polisi itu kadang kadang bikin kesal ketika mereka pura pura tidak kenal dengan kita sewaktu bertemu dengan kita di kantor.

  10. 10 yulianbjm 4 December 2008 at 09:15

    Hampir semua isi postingan diatas, sudah pernah saya dan beberapa teman saya alami, berarti memang sudah membudaya kali ya, dimana-mana kelakuan mereka seperti itu, lebih mengesalkan lagi ada teman seorang polisi yang pura-pura tidak kenal sewaktu saya ada masalah di kantor polisi….heeeemmm…

  11. 11 Rukia 4 December 2008 at 10:06

    *liat judul*

    Maafkan Saya Pak

    Saya maafkan nak jangan ulangi lagi ya *menepuk-nepuk bahu*
    *digampar*
    [/GakPenting]

    *Serius*
    Saya juga jujur nggak suka sama polisi, karena merka suka seenaknya sendiri apalagi waktu nilang orang.
    Waktu ada razia kendaraan misalnya, ada beberapa pengendara yang kenal ma bpk2 polisi dan mereka nggak diperiksa ma polisi hanya melambaikan tangan n bs lwt dgn lenggangkangkung.
    Apalagi kalo udah akhir bulan maka para bpk2 polisi itu akan semakin sering berkeliaran di jalan dan melakukan penilangan, cari tambahan buat ngebuncitin perut sepertinya.

    Mungkin tindakan para polisi yang brengsek rusak itu karena saat mereka mendaftar jadi polisi udah dipalak dimintai uang yang jumlahnya nggak sedikit. Jadi istilahnya balas dendam kali.

  12. 12 Rukia 4 December 2008 at 10:08

    *liat judul*

    Maafkan Saya Pak

    Saya maafkan nak jangan ulangi lagi ya *menepuk-nepuk bahu*
    *digampar*
    [/GakPenting]

    *Serius*
    Saya juga jujur nggak suka sama polisi, karena merka suka seenaknya sendiri apalagi waktu nilang orang.
    Waktu ada razia kendaraan misalnya, ada beberapa pengendara yang kenal ma bpk2 polisi dan mereka nggak diperiksa ma polisi hanya melambaikan tangan n bs lwt dgn lenggangkangkung.
    Apalagi kalo udah akhir bulan maka para bpk2 polisi itu akan semakin sering berkeliaran di jalan dan melakukan penilangan, cari tambahan buat ngebuncitin perut sepertinya.

    Mungkin tindakan para polisi yang brengsek rusak itu karena saat mereka mendaftar jadi polisi udah dipalak dimintai uang yang jumlahnya nggak sedikit. Jadi istilahnya balas dendam kali.

  13. 13 ulan 4 December 2008 at 10:26

    wahhhh… mbak siwi emosi sekali..

  14. 14 Dhani_Yadi ("Pengangguran Menulis Mimpi") 4 December 2008 at 11:10

    Saya mencoba untuk lebih memandang semua permasalahan ini dari kacamata kebijaksanaan, dimana masa sekarang ini semu sudah mulai kabur, antara dua sisi kini sudah mulai berbaur, ketika idealisme dijual untuk mimpi dan tanggung jwab tergadai demi rupiah, yang pasti selama semua ingat akan rasa persaudaraan dan mati, dan menjadikan agama sebagai tuntunan, insya Allah, semu berjalan baik mungkin seperti itu, karena ini hanyalah pendapat, masalah menerima atau menjalankannya tergantung pada pribadi masing – masing

  15. 15 erander 4 December 2008 at 11:40

    *ngelirik komengnya ulan*🙄

    Rid, ikam mungkin sedang apes aja kali hehehe🙂 .. tapi kalo kejadiaannya sama dimana² .. hmm, patut dipertanyakan juga pang. Apa memang masuk dalam kurikulum pendidikan mereka ya?

  16. 16 syafwan 4 December 2008 at 13:40

    *berupaya menyimpulkan* jadi bingung? Apa fungsi SPN ketika membina polisi-polisi baru. Memang menjadikan polisi disiplin, berwibawa dan tegas. Tapi sayang bernurani buas. Agaknya perlu tambahan pembinaan mental, atau psikis. Atau kejiwaan? Ah saya selalu menghujat. *ikut judul* maafkan saya pak, dah mau lebaran hilangkanlah dendam diantara kita.

  17. 17 ryht 4 December 2008 at 17:52

    Ini ngomongin apa sih pak?

    *Ngabur……….*

  18. 18 Fortynine 4 December 2008 at 23:01

    @yulianbjm: Saya tidak menyebarkan hoax nampaknya

    @Rukia:

    Mungkin tindakan para polisi yang brengsek rusak itu karena saat mereka mendaftar jadi polisi udah dipalak dimintai uang yang jumlahnya nggak sedikit. Jadi istilahnya balas dendam kali.

    Mungkin juga mereka memang dididik untuk memperkosa hukum dan memeras masyarakat

    @ulan: Mana Siwi-nya Bu?

    @Dhani_Yadi (“Pengangguran Menulis Mimpi”):

    yang pasti selama semua ingat akan rasa persaudaraan dan mati, dan menjadikan agama sebagai tuntunan, insya Allah, semu berjalan baik mungkin seperti itu, karena ini hanyalah pendapat, masalah menerima atau menjalankannya tergantung pada pribadi masing – masing

    Saya yakin semua anggota polisi beragama, ingat persaudaraan dan ingat mati. Namun sayangnya semua itu tidak cukup untuk memberi makan nafsu binatang terkutuk yang ada dalam diri busuk mereka

    @erander&syafwan: Saya juga curiga jangan jangan di dalam pendidikannya para polisi ada pelatihan mengerjai dan memeras masyarakat

    @ryht:😛

  19. 19 emond van rongong, SH 11 December 2008 at 14:47

    ente2 semua di atas kalau masih kencing di belakang pohon daripada di wc, kalau masih buang puntung rokok di got dr pada di asbak, kalau masih ngentot walau belum nikah, kalau masih nympen bokep di hape, kalau masih donlot lagu gratisan, gak usah ngomong org yg menghina hukum lah perkosa hukumlah tai anjing semuanya……..

    Ya betul! polisi di republik ini pada jadi setan semua kalau mau beres semua polisi dari jendral sampe polisi prit2 di jalan harus di eksekusi tembak semua di samping istana presiden baru diganti ama orang yang baru dan segar….he he gimana argumen saya ada keberatan……?????

  20. 20 tempakul 24 December 2008 at 16:17

    he…he….he…….mantap banar komen nya bos rongong….
    emang susah hidup di dunia klo masih bnyak hal2 lain yang kadang kita liat sepele namun bermakna luas…..!!!?
    polisi kayanya bikin kita malas berurusan dengan mereka yang jelas maksud baik apalagi pas ada masalah….dengar cerita temen pas pendidikan aja di spn dah ada gmana suatu pilihan antara yang enak dan gak diselesaikan dgn uang antara calon polisi dan instrukturnya………..
    emang ada bad cops dan good cops..tapi seberapa banyak sih yang benar2 mengabdi…….
    gmana ada komen ga yaa dari polisinya sendiri…


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: