“Ma….belikan makanan kaya di majalah ini”. Ujar seorang anak kecil yang baru saja bisa berbicara, dia masih belum sekolah, belum cukup umur, namun pendidikan keluarganya di rumah telah membentuknya sebagai anak cerdas yang sudah mengenal koran dan majalah. Iklan itu adalah iklan sebuah makanan ringan, terpampang pada sebuah majalah kelas nasional yang baru saja dibelikan orang tuanya sebagai bahan bacaan kepada si anak. “Itu tidak dijual di sini nak…” jawab ibu si anak dengan lembut. “Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Ini, coba lihat tulisan ini, sementara hanya tersedia di jawa dan bali

“Oh…. kapan kira kira ada di sini? nanti kalau sudah dijual di sini, belikan ya Ma…” Pinta si anak. “Iya…kalau sudah ada di jual di sini, nanti Mama belikan” sahut beliau dengan lembut.

Beberapa tahun kemudian, si anak beranjak dewasa, sudah masuk sekolah. Jua, televisi sudah mulai menghiasi ruangan tengah rumahnya, si anak kini tak perlu lagi kabur ke rumah tetangga untuk menonton film kartun kesayangannya. pada masa itu iklan di televisi sudah mulai bermunculan, termasuk salah satu diantaranya adalah iklan makanan siap saji yang berhadiah mainan.

“Ma…kentaki berhadiah Ma…belikan kentaki Ma…anak mau hadiah mainannya, mainannya bagus” ucap si anak penuh harap. Jawab si ibu; “kentaki belum ada di sini Nak, belum ada orang jual kentaki di kota kita…lagipula, itu liat tulisan di iklan televisi itu, sementara hanya tersedia di jawa dan bali….”.

Lesulah si anak, pengharapan besar seorang anak kecil usia sekolah dasar yang terpancing oleh iklan punahlah sudah. Sebelum mengetahui fakta tersebut, dibenaknya sudah terbayang dengan versi dirinya sendiri bagaimana rasanya kentaki yang seperti di televisi itu, pula dia membayangkan senangnya bermain dengan hadiah yang bakalan didapatkannya setelah membeli kentaki.

Tak berapa lama, berselang tahun… “Huh, lagi lagi jawa bali, kapan aku bisa beli produk ini, percuma di iklankan kalau hanya tersedia di jawa bali!”. Si anak kini sudah makin menapaki jenjang pendidikannya, dia sudah mulai belajar untuk mengerti merah, hitam, dan kuning, meskipun masih terlalu hijau untuk mengerti yang biru. Dia menggerutu setelah melihat iklan di televisi yang saat itu berskala nasional menayangkan iklan yang di bagian akhir iklan memberikan keterangan bahwasanya produk tersebut sementara hanya tersedia di jawa bali.

“Kenapa harus selalu seperti itu! Pasti di sini ditinggal, tiap ada produk baru, mesti dijual di jawa bali dulu, kenapa tidak pernah merata?”. Tanya si anak. “Mungkin mereka mau lihat bagaimana reaksi pasar dulu, kalau sudah laku di jawa bali, baru dipasarkan ke seluruh endonesa” jawab ibu si anak.

Masih di waktu yang berdekatan……. “Abah mau kemana?”. Si anak bertanya. “Mau ke lapangan, ikut garap proyek lahan sekian hektar” jawab Abah si anak. “Nanti lahannya buat apa?” sambung si anak. “Nanti akan dibikin buat lahan tanaman, seperti kakekmu punya di atas gunung sana. Lahan itu diperuntukkan buat orang orang yang transmigrasi dari jawa ke sini. Mereka yang akan garap tanah yang sekarang sedang dikerjakan…”.

Lahan itu mentah, tak bertuan namun disebut milik negara, ataupun telah dibebaskan dari pemiliknya yang SYAH dengan sistem ganti rugi-setelah tanah tersebut diganti, maka sang pemilik tanah pasti rugi-, digarap sedemikian hingga menjadi lahan kosong untuk dijadikan kampung baru sebagai penampungan para pesakitan dari ENDONESA. Mereka akan dapat semua itu GRATIS!!! Dapat tanah untuk dijadikan usaha, dapat rumah pula. Pulau yang ditempati si anak dijadikan pulau buangan bagi para pesakitan ENDONESA yang tiba tiba jadi orang sukses di pulau pembuangannya.

“Kenapa Abah ikut kerja di sana?” tanya si anak. “Biar bisa dapat duit, biar bisa belikan kamu mainan, biar bisa bawa kamu ke jawa bali…. kalau tidak ikut kerja begini, cuma duit gajian selama ini tidak bakalan bisa buat beli tiket ke ENDONESA”. Ujar Abah. “Iya… iya…. nanti kalau sudah cukup duitnya, kita ke jawa bali ya? kita ke jakarta, biar bisa ke taman hiburan seperti yang di tv itu.” Sahut si anak….

Beberapa tahun kemudian, ketika si anak beranjak dewasa. Ia sedang menunggu di depan rumahnya, hari telah gelap malam, Abahnya belum datang dari pekerjaan tambahan menjaga stockpile emas hitam. Ia tidak khawatir, hanya saja menunggu kedatangan Abah memang sesuatu yang selalu dilakukannya setiap malam. Selama ngantuk masih tertahan pantang baginya ke peraduan sebelum orang yang sangat dicintainya itu datang. Pada suatu kesempatan ketika ia bercakap dengan Abah sebelum beliau berangkat bekerja; “emas emas hitam itu, setelah di pelabuhan dikirim ke mana?” tanyanya. “Ke jawa, ke ENDONESA, buat menerangi ENDONESA, buat pembangkit listrik di ENDONESA”.

Si anak bertanya tanya, apakah pulau yang ditempatinya sekarang ini sedemikian kaya? Sehingga bisa jualan emas hitam ke ENDONESA? Iya, faktanya pulau yang ditempatinya memang ladangnya emas hitam. bahkan bukan hanya dijual, mungkin digratiskan ke ENDONESA, namun juga emas hitam tadi juga di ekspor ke luar negeri…

Setelah sedemikian tahun terlewat….. PLN bangsat, PLN jahanam, alasan apalagi sampai mati lampu! Kemaren mati lampu, hari ini mati lampu!”. Si anak memaki kondisi pulaunya yang melaksanakan penghematan listrik dengan cara pemadaman rutin. Si anak selalu bertanya tanya, kenapa sebuah pulau yang merupakan tambang emas hitam bisa sampai kekurangan energi listrik? Bukankah pulau yang ditempatinya mempunyai surplus emas hitam yang merupakan bahan pembangkit energi listrik? Mengapa pemadaman rutin harus terjadi? Mengapa pulaunya kekurangan listrik?

Kalau si anak suka bertanya tanya, satu saja pertanyaan buat anda: di pulau manakah si anak berlokasi

::::::::::::

Special invitation is sent to these people