Pertanyaan besar yang selama ini mengisi sebagian dari memory system otak ini: Pantaskah putra putri Kalimantan Selatan menggunakan kata ganti orang pertama, dan atau kata ganti orang kedua yang tidak mencerminkan budaya kedaerahannya? Buat saya, hal tersebut sangat tidak pantas.

Ketika ada makhluk yang konon merupakan ciptaan paling sempurna dari Tuhan bernama manusia yang menulis, lantas tulisannya dituangkan dalam media bernama blog, maka disebut bloggerlah adanya. Jikalau makhluk tidak bersayap tadi berasal dari sebuah propinsi yang termasuk dalam jajahan Indonesia bernama Propinsi Kalimantan Selatan, maka blogger Kalsel lah tersebutnya. Definisi ini masih bisa dikembangkan dalam tulisan, tapi itu cerita lain untuk saat ini…

Bahasa Banjar, memiliki kata ganti orang pertama dan orang kedua yang bahkan sudah ada kelas/tingkatannya. Kalau dalam bahasa Jerman antara kamu sebagai teman, dan kamu sebagai orang yang tidak dikenal dibedakan penyebutannya[1], demikian pula halnya dalam bahasa Banjar. Apabila dalam bahasa Jerman kata Du digunakan untuk teman, atau orang yang lebih muda, sementara kata Sie digunakan untuk orang tak dikenal dan atau orang yang dihormati. Maka dalam bahasa Banjar dikenal pula tingkatan yang semcam itu; kata ikam, nyawa dan pian versus kata aku, unda, dan ulun adalah sebuah sistem bertingkat dalam bahasa Banjar. Bukan hanya untuk menunjukkan sopan santun, tapi juga menunjukkan tingkatan budaya.

Saya, bukan seorang yang ahli dalam bahasa Banjar, sudilah kiranya blogger blogger Kalimantan Selatan lain yang lebih handal dalam per-bahasa Banjar-an membantu saya soal definisi penggunaan kata ganti orang pertama dan kata ganti orang kedua. Namun dengan modal pengetahuan yang sedikit ini jua lah saya merasa sangat tidak nyaman dengan penggunaan kata ganti orang pertama/kedua yang sering digunakan urang Banjar lainnya.

Pernah pada suatu masa saya bertemu dengan Om Azlan, orang Malaysia keturunan Banjar. Ketika bercakap menggunakan bahasa Banjar, kami justru sangat tersambung dalam komunikasi, lebih tersambung ketimbang harus menggunakan bahasa Indonesia. Beliau ini begitu bangganya bisa menjejak tanah leluhurnya, karena kalau tidak salah dari 7 keturunan sebelum beliau, beliaulah orang pertama yang berhasil menjejak kampung halaman nenek moyang. Kalau beliau begitu bangganya dengan budaya nenek moyang, kenapa kita yang lahir, hidup, tumbuh besar di tanah warisan nenek moyang harus berusaha mengikis warisan nenek moyang yang begitu berharganya?

Masih minum banyu sungai atau banyu sumur saja sudah pakai elu/gue… Kenapa saya sebut macam itu? karena memang sejatinya kita di sini, di Kalimantan Selatan ini memang minum banyu sungai atau banyu sumurnya Kalimantan Selatan. PDAM kalsel menggunakan air sungai Kalimantan Selatan sebagai bahan olahannya, bukan air laut, apalagi air dari Jakarte sana. Buat yang tidak minum banyu sungai, maka tentunya minumnya banyu sumur yang berasal dari tanah yang juga tanah Kalimantan Selatan, bukan tanah jawa sana. Jadi kalau ada yang merasa bangga pakai kata elu/gue, silakan… Alasannya mungkin supaya gaul, dan lain sejenisnya, tapi ya itu tadi pertimbangannya, kalau masih minum banyu sungai atau banyu sumur, apa mesti bangga pakai kata elu/gue?

Kemudian, ini yang layak menjadi perhatian serius; BAHASA TULIS. Sejak jaman sekolah masih pakai celana merah, hingga berubah warna jadi macam macam warnanya semua siswa diajarkan menggunakan bahasa yang konon katanya baik dan benar; Bahasa Indonesia. Sementara ini, sementara Kalimantan Selatan masih jadi bagian Indonesia maka anggap saja bahasa Indonesia adalah bahasa terbaik untuk menjadi bahasa pengantar dalam bahasa tulis menulis. Lalu, bagaimana dengan kebebasan berekspresi di blog, media social atau sejenisnya? Apakah masih bisa diterapkan penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar? Tentu saja bisa kalau kita mau.

Apabila sebagian dari anda terinspirasi dan mengagumi daripada blognya dan sekaligus juga gaya bahasanya Raditya Dika… Bagus! Saya akui dengan sejujur jujurnya bahwasanya dirinya adalah penulis kreatif, saya suka lelucon darinya, saya juga suka membaca buku dan blognya Raditya Dika. Tetapi meskipun suka, bukan berarti saya akan telan bulat bulat semua dari Radit. Tak perlulah saya harus pakai kata elu/gue di blog saya pribadi, toh kalau misalnya semua tulisan blog ini dibukukan bisa saja hasilnya mengalahkan buku kambing jantan dalam hal jumlah pembaca dan penjualan :mrgreen:

I have my own idea and I have my own style! Tentunya saya tidak akan meninggalkan kebanggan saya sebagai seorang yang lahir, hidup, dan tumbuh di Kalimantan Selatan. Apa buktinya? Silakan baca saja arsip arsip blog ini. Kebanggaan saya juga saya wujudkan dengan cara menjelajahi Kalimantan Selatan, baik itu hutannya, gunungnya, goa goanya, bahkan termasuk menjelajah aspal di semua Kabupaten dan Kota yang ada di Kalimantan Selatan[2].

Cukuplah sudah kiranya Kalimantan Selatan ini dirampok kekayaan alamnya, tak perlu kekayaan budaya dan bahasanya dirampok pula. Jangan sampai yang berkontribusi memperparah, membuat hancur dan menghilangnya budaya daerah ini adalah putera puteri daerah sendiri. Maka sekali lagi, pertimbangkanlah gaya bahasa anda wahai para urang Banjar yang menjadi blogger, karena dalam blog gaya bahasa adalah identitas. Tak perlulah identitas sebagai urang Banjar dihapus, atau dikaburkan hanya demi kejar kata “gaul”, atau kata “keren”. Sekian sok tahu kali ini…

  • ^[1] Sudilah kiranya Amed, atau kalau bisa dan lebih bagus lagi ibu Sez unntuk membantu saya dan mengoreksi apabila terjadi kesalahan
  • ^[2] Tidak seluruhnya, tapi sebagian besar aspal yang berada di Kabupaten dan kota Di Kalimantan Selatan