Cerpen Tahun Baru

Langgar dalam bahasa indonesia jika itu kata benda adalah satu kata yang memiliki pengertian sebagai sebuah rumah ibadahnya umat Islam. Langgar lebih kecil daripada Masjid, dan biasanya tidak setiap 5 kali sehari dikumandangkan suar adzan. Serta, tidak dilaksanakan sholat Jum’at di Langgar.[1]

The Ballad of Langgar

Persis di samping rumah saya, terdapat sebuah langgar, kalau tidak percaya tanya saja dengan Amed, Carbon, atau Fadil yang pernah datang ke rumah. Pada masa sekarang ini mereka yang saya sebutkan tadi sudah jarang datang ke rumah. Ada salah satu diantara mereka yang mati, ada juga yang hampir mati, dan tentu saja ada yang mati bunuh diri, tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Kembali kepada Langgar… Ketika pertama datang ke sini[2], Langgar sebelah ini ramainya luar binasa, setiap masuk waktu sholat, barisan depan selalu penuh sampai sampai barisan belakang tidak kebagian jatah. Jaman berubah, waktu dan musim silih berganti datang dan pergi, namun urusan barisan umat yang sholat di Langgar sebelah tidak pernah berubah, apalagi berjalan mundur, selalu saja mengalami kemajuan. Pula, ada satu kemajuan lagi yang terasa benar benar berbeda; kemajuan tingkat desibel aka tingkat kebisingan.

Belasan tahun yang lalu, muadzin di Langgar sebelah benar benar memiliki rasa perikemanusiaan yang tinggi. Tak seperti para penghobi teriak di rumah ibadah lainnya, muadzin Langgar sebelah pada puluhan tahun yang lalu adalah muadzin yang mampu mengenali tingkat kebisingan. Beliau tak pernah membuat telinga saya mendengung setiap kali beliau mengumandangkan adzan. Pun demikian dengan penggantinya, bahkan ketika beliau sang muadzin pertama kembali lagi, beliau masih tidak berubah, adzannya masih tetap sopan. Sebagai bukti bahwasanya dua muadzin terdahulu sopan adalah:

  1. Microphone Langgar beserta pengeras suaranya tak pernah rusak
  2. Telinga saya tidak mendengung ketika mendengar suara adzan dari langgar sebelah, meskipun saya sedang berada di luar rumah sekalipun.

Datanglah sang muadzin ke tiga, sebagai muadzin terbarukan beliau yang satu ini mungkin semasa sekolahnya telah diajari olah vokal. Namun sayangnya tidak diajari rasa perikemanusiaan. Setiap kali beliau adzan, telinga saya mendengung. Nyaringnya suara knalpot Fabio ketika dekat dengan telinga saja, rasanya tak lebih menyiksa ketimbang serangan ke telinga yang entah berapa desibel dari hasil kolaborasi antara pengeras suara dengan teriakan dari mulut yang ditempelkan ke microphone.

Coba fikirkan dengan akal sehat dan iman kuat. Namanya sahaja sudah pengeras suara, maka kalau sudah pakai pengeras suara, tak perlu lagi suara Adzan dikeraskan sampai sampai tingkat desibelnya harus menyamai level desibelnya MotoGP[3]. Sekarang jaman canggih, sudah ada alarm, radio dan berbagai perangkat lainnya yang dapat membuat manusia sadar akan datangnya waktu sholat. Tak perlu lagi pakai tata cara keker matahari dan cara cara yang dianggap kuno dan atau primitif lainnya. Termasuk tak perlu lagi menggunakan kekerasan suara untuk hanya sekedar menyampaikan; It’s prayer time!!!

Mudah mudahan kedepannya, sang muadzin sadar akan hal ini, bukan hanya muadzin sebelah saja tapi juga semua manusia yang hobi menyalahfungsikan pengeras suara rumah ibadah. Kenapa saya tidak menegur soal kebisingan yang dihasilkan? Saya rasa anda anda sekalian sudah tahu saja jawabannya, so keep it for yourself.

NOTE: Sudah tiga kali pengeras suara di Langgar sebelah rusak semenjak datangnya sang muadzin. Entah kenapa hal tersebut belum menyadarkan sang muadzin bahwasanya pengeras suara bukan untuk digunakan menyalurkan hobi teriak, melainkan untuk menghemat tenaga sehingga tak perlu teriak.

4 Responses to “Cerpen Tahun Baru”


  1. 1 nyamuck 1 January 2012 at 21:33

    hahahahaha asik bang hehe

  2. 2 Amd 2 January 2012 at 11:41

    “ada juga yang hampir mati,”

    Siap-siap jadi surung sintak lah😉
    Eh, aku pertengahan Januari rencana balik. Belum pasti pang tanggal berapanya.

  3. 3 guh 5 January 2012 at 09:44

    Bikin link pakai superscript gitu pake program apa? mau dong.

    Soal bertetangga dengan rumah-rumah religius yang berisik, nasib saya lebih parah. Tidak cuma 5 kali sehari, tapi rutin ada doa-doa dan puja-puji sejak subuh hingga 9 pagi. Kalau sore sudah memuja sejak 1730.

    Sekarang sedang coba gelar open wifi, namanya dibikin “Tuhan Tak Tuli, Kok Teriak2” atau semacamnya. Belum nemu kalimat yang lebih pendek tapi menyadarkan.

    Teorinya, abege2 haus internet sudah banyak yang bawa android ber-wifi enabled (semoga ustad2 atau putri-putrinya juga). Nah, kalau lewat depan rumah, hp mereka (semoga dinyalakan) akan mencatat dan memberitahu tuannya saat menangkap adanya open wifi. Pesan itu akan tersampaikan🙂

  4. 4 Fortynine 5 January 2012 at 17:33

    @nyamuck::mrgreen:

    @Amd: tahu tuh ndak beramian apa kada. Berarti sawat ke acara mun kam sampai bulan Februari di sini

    @guh:

    Bikin link pakai superscript gitu pake program apa? mau dong.

    Tutorial bikinnya adalah dengan membedah blog ini. Buka salah satu artikelnya, klik kanan firefox, pilih “view page source”, nah silakan berpusing ria menentukan bagaimana itu coding bisa terbentuk😛

    Tapi tentu saja, tak lupa bertanya kepada google yang konon katanya mahatahu, soal superscript, dan html, tak lupa diiringi eksperimen dan doa kepada Tuhan Yang Mahaesa. Demikianlah pengalaman saya membuat superscript.

    Sekarang sedang coba gelar open wifi, namanya dibikin “Tuhan Tak Tuli, Kok Teriak2″ atau semacamnya. Belum nemu kalimat yang lebih pendek tapi menyadarkan.

    Teorinya, abege2 haus internet sudah banyak yang bawa android ber-wifi enabled (semoga ustad2 atau putri-putrinya juga). Nah, kalau lewat depan rumah, hp mereka (semoga dinyalakan) akan mencatat dan memberitahu tuannya saat menangkap adanya open wifi. Pesan itu akan tersampaikan

    Bagaimana dengan yang penemuan ini? Apakah bisa nampaknya menjadi solusi?


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: