Dalam sebuah sistem keuangan pemerintahan, anggap saja misalnya Pemerintah Kota Banjarbaru, ada sebuah kegiatan yang dinamakan rapat dimana rapat ini memerlukan biaya, diperlukan adanya agar terjadi keseimbangan pada kinerja pemerintahan. Dalam pada rapat ini, bakal diketemukan yang bernama anggaran baik itu teruntuk konsumsi. Semua biaya yang diperlukan tercantum, dianggarkan atau apalah namanya pada daftar perbelanjaan pemerintahan. Singkatnya mungkin seperti ini; Pada Anggaran Tahunan Pemerintahan, terdapat dana rapat.

Sekarang pertanyaannya, seberapa sering rapat diadakan dan dianggarkan dalam suatu pemerintahan? Entahlah.. Saya tidak tahu. Namun yang saya tahu, yang namanya rapat fiktif seringlah terjadi. Apa dan bagaimana rapat fiktif itu? Rapat fiktif adalah rapat yang sebenarnya tidak pernah dilaksanakan, namun dibuat seolah olah dilaksanakan. Bagaimana cara dan resep resep rapat fiktif?

SATU: Buat daftar hadir rapat, daftar hadir ini bisa dicomot dari daftar hadir apel gabungan (jika perlu peserta rapat dalam jumlah yang besar), atau membuat daftar hadir fiktif yang diberi judul dan tanggal fiktif pula, lantas meminta beberapa orang untuk membubuhkan paraf/tanda tangannya. Daftar hadir ini diperlukan dalam laporan pertanggungjawaban penggunaan dana rapat. Dengan daftar hadir, baik fiktif maupun nyata, maka akan menguatkan bukti bahwasanya rapat dilaksanakan.

DUA: Buat nota/kuitansi pembelian makan dan minum untuk peserta rapat. Senada dengan daftar hadir, jika daftar hadirnya fiktif, maka nota/kuitansi makan minum ini tentunya haruslah fiktif pula. Soal bagaimana detail dan caranya membuat nota/kuitansi untuk peserta rapat, saya rasa anda anda pembaca sekalian sudah terlalu pandai untuk tidak mengerti.

TIGA: Lampirkan Daftar Hadir Rapat, Nota/Kuitansi makan minum peserta rapat, dan kelengkapan kelengkapan berkas lainnya guna membuat laporan pertanggung jawaban. Laporan ini diperlukan agar supaya tidak membahayakan stabilitas dan keamanan negara (alias lolos ketika ada pemeriksaaan).

Demikian, maka selesailah sudah satu laporan pertanggung jawaban diantara sekian banyak laporan pertanggung jawaban yang harus dibuat lainnya. Laporan ini biasanya dikelola oleh orang orang yang berkecimpung di pemerintahan, bidang/divisi/bagian keuangan. Jadi, apabila ada orang yang pernah bekerja di pemerintahan, pekerjaannya bidang keuangan, maka jelas dirinya akan tahu bagaimana caranya membuat laporan keuangan di dalam sistem pemerintahan.

Nah, untuk contoh kasus ini, apabila ada orang pemerintahan yang pernah bekerja di keuangan, kita tanya “bagaimanakah cara membuat laporan keuangan yang baik dan benar”? Lantas menjawab “saya tidak tahu”, atau menjawab “saya memang pernah bekerja di keuangan, namun saya belum pernah mengerjakan laporan keuangan”, maka apa asumsi yang terjadi?

Dugaan dari saya:…….

Pertama: Jika ada kasus semacam itu dugaan paling awal dari saya adalah orang tersebut di atas terlalu bego! Terlalu jujur jadi pegawai, sampai sampai mengakui sendiri impotensinya dalam bekerja!

Kedua: Orang ini pendusta! Jikalau sudah pernah bekerja di keuangan, lantas tidak tahu bagaimana caranya membuat laporan keuangan, apalagi namanya kalau bukan berdusta dengan memberikan jawaban tidak tahu.

Ketiga: inilah yang paling berbahaya sekaligus menjijikkan, orang munafik! Dia tahu bagaimana caranya membuat laporan keuangan, mulai dari laporan keuangan fiktif hingga yang nyata, dan dia menyatakan ketidaktahuannya bukan untuk berdusta, namun untuk pencitraan. Pencitraan bahwasanya dirinya orang yang bersih, jujur dan bertanggung jawab kepada pekerjaan.

Kenapa bisa begitu? Begini, orang itu tahu bahwasanya si penanya tidak akan berhenti sampai disitu jikalau dirinya menjawab “ya saya tahu”, maka dengan alasan untuk menjaga kemanan dan stabilitas negara, maka dirinya “berdiplomasi” dengan cara menghindar. Cara ini efektif untuk mencitrakan dirinya sebagai pekerja yang mentaati sumpah jabatan dan atau sejenisnya yang meminta pekerja negara untuk setia kepada sumpah jabatan termasuk didalamnya ya itu tadi; menjaga stabilitas dan keamanan negara.

Orang orang bajingan macam ini banyaklah ditemukan dalam dunia nyata. Ketika ditanya bagaimana caranya supaya bisa lulus CPNS misalnya, mereka akan berikan jawaban diplomatis khas pemerintahan. Tidak akan ada penjelasan soal bagaimana titip menitip terlaksana. Mereka bahkan berani sumpah pocong atau mungkin sumpah kafir™ bahwasanya THEY REALLY KNOW NOTHING! Padahal dalam kenyataanya turut serta dalam bekerja.

Pokok pemikiran tulisan ini; Sebaiknya mereka mereka para bajingan itu tak perlulah banyak omong dalam pencitraan. Masyarakat sudah terlalu pandai Pak/Bu. Tak perlu anda anda sekalian berdiplomasi melakukan pencitraan bahwasanya anda anda sekalian yang terkutuk adalah orang jujur bersih tak punya dosa. Buat saya, alangkah lebih baiknya anda anda sekalian melakukan pencitraan dengan cara macam para calon pemimpin, yang suka bagi bagi ‘zakat’, ketimbang omong/tulisan soal anda tak pernah tahu, padahal anda banyak tahu
______________________________________________________________

NOTE; ini di dedikasikan untuk para orang orang busuk di Pemerintahan baik kelas lokal maupun nasional. Tapi…. saya percaya dan menemui sendiri kok para pejabat dan petugas Pemerintahan yang jujur dan bersih, meskipun at last karir mereka ya gitu gitu aja alias selalu disalip para kaum munafikin.