Archive for the 'Lorong Hitam' Category

Lagi Lagi Dosen


“Bang. Besok jangan lupa ke Banjarmasin. Ada acara dalam rangka memperingati hari AIDS.”

Begitulah inti dari undangan adik adik saya di IMPAS-B. Tanggalnya memang tidak persis, namun tidak ada salahnya kalau kita turut memperingati dan menyumbang sesuatu yang positif bukan?

Isi acaranya? Kampanye tentang AIDS, Teater, musik jalanan dan pagelaran seni lainnya. Namanya juga Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Seni dan Budaya. Acara tersebut juga dimaksudkan untuk mengumpukan keramaian dari TWKM yang baru saja dilangsungkan. Mumpung para orang gila seluruh Indonesia masih berkumpul di Banjarmasin. Acara tersebut bisa juga dikatakan sebagai ajang silaturahmi antar mapala se-Indonesia.

Ada beberapa hal yang bakalan menjadi permasalahan sekaligus pembahasan dari hasil paragraf diatas. Namun yang ingin saya soroti justru kejadian pada saat acaranya. Bukan tentang TWKM nya. Bukan tentang AIDS dan hari AIDS nya. Bukan pula tentang Mapala se-Indonesia-nya.

Di saat acara berlangsung. Perkuliahan juga berlangsung. Maklum masih awal minggu. Tepatnya hari Selasa. Namanya juga acara seni. Mana mungkin acaranya diam diaman macam renungan suci yang harus sunyi senyap dan hening.

Acara musik dan teater jelas menggunakan sound sistem alias pengeras suara. Meskipun tidak seprofessional musisi dan seniman seniman seperti yang kita sering saksikan di televisi, ataupun tidak sedahsyat dan sekencang para ahli ahli mikropon di tempat tempat ibadah, setidaknya polusi suara pasti tidak terhindarkan dalam acara itu.

Maka dari itu, jauh hari sebelumnya para adik adik saya itu sudah meminta izin kepada tuhan tuhan yang berwenang di kampus guna sedikit meracuni telinga para penduduk kampus melalui acara tadi.

Izin tentu saja bukan hanya secara mulut lewat mulut. Melainkan juga ijin tertulis. Dengan kata lain, IMPAS-B selaku panitia acara diperbolehkan untuk mengadakan kebisingan di kampus.

Jelas, tuhan tuhan kampus sudah merestui. Namun namanya juga ada banyak tuhan. Makanya banyak juga tuhan tuhan kampus lain yang tidak setuju. Mulai dari tuduhan acaranya buang buang waktu. Meracuni pendengaran. Acaranya tidak penting, hingga yang cuma mengomel di kelas.

Dan disinilah para tuhan tuhan kampus menunjukkan kebesaran dan keagungannya. Acara yang sudah mengantongi ijin dari tuhan tertinggi di kampus masih saja di interupsi. “Hentikan!. Saya ada ujian!. Ga tau saya ada kelas?!. Mahasiswa berisik benar sich!.” Itulah yang terjadi. Dengan statusnya sebagai tuhan tuhan kampus, mereka menunjukkan eksistensinya kepada para mahasiswa.

Ingin sekali rasanya saya menghajar para tuhan tuhan jantan yang menginterupsi dan memaki panitia. Ingin pula saya memaki dan mendebat para tuhan tuhan betina yang menegur dengan sinis hingga kasar. Apalagi dengan stus saya yang sudah bebas dari neraka kampus.

Namun, buat apa juga saya lakukan? Meski tuhan tuhan jantan saya hajar, besok besok mereka tetap jadi tuhan di kampus. Kalaupun tuhan tuhan betina saya maki maki atau saya debat. Di kemudian hari mereka tetaplah tuhan kampus. Sementara saya bisa jadi penghuni hotel gratisnya pak polisi.

Jadilah saya hanya bisa menatap, menyaksikan para tuhan tuhan kampus yang berkali kali menunjukkan kekuasaan dan keberadaan mereka di kampus. Tak perduli bahwasanya tuhan tertinggi di kampus sudah merestui acara.

Permasalahan tidak sampai di situ. Ada tuhan kampus yang diam saja dengan acara. Meski bukan berarti meridhoi acara bising tersebut. Ada tuhan kampus yang maklum. Ada tuhan kampus yang protes sendiri dan lain sebagainya.

Yang saya bingung, tuhan tuhan senior di kampus tidak pada protes, kenapa mereka mereka yang baru jadi tuhan pada protes? Yang saya bingung kenapa tidak dari dulu mereka protes? Sekalian saja membatasi acara? Tapi kenapa ikutan membolehkan waktu minta ijin? Ataukah kami yang kurang sosialisasi? Kalaupun kurang, kenapa mereka tidak menghargai ijin yang sudah didapatkan? Kenapa mereka tidak bisa belajar maklum? Sementara mahasiswa dipaksa maklum jauh lebih sering.

Mahasiswa bisa maklum saat dosen masuk kelas dan merubah jadwal kuliah seenak jeroan busuknya. Mahasiswa dipaksa maklum saat tidak diluluskan dalam mata kuliah yang diambil dengan alasan yang tidak jelas dan tidak logis. Mahasiswa terpaksa maklum saat dosen memberikan nilai 78 untuk 20 soal yang dijawab dengan benar oleh mahasiswa sebanyak 18 soal.

Kenapa mereka tidak mau maklum sehari saja? Lebih tepatnya: kenapa para oknum itu tidak bisa maklum barang sehari saja?

Mungkin ada yang mengatakan bahwasanya saya membenci dosen karena alasan pribadi. Alasan itu sangatlah tidak tepat. Yang saya benci adalah kesewenang wenangan dan ketidakkenalan mereka terhadap toleransi dan penerimaan. Yang saya benci adalah tindakannya. Bukan orangnya.

Saya tidak benci kepada dosen tertua di kampus saya dulu. Yang saya benci adalah turut campurnya beliau terhadap penampilan saya. Saya tidak benci dosen dosen muda ataupun tua di kampus saya dulu, namun yang saya benci adalah sikap bunglon dan munafik mereka. Yang saya benci adalah sikap arogan dan sok berkuasa mereka. Yang saya benci adalah sikap tidak objektif mereka. Yang saya benci adalah ketidak pedulian sosial mereka. Yang saya benci adalah fikiran kolot dan anti perubahan mereka.

Karena semua sikap mereka bukan mendidik mahasiswa menjadi santun melainkan suka cari muka. Bukan menjadikan mahasiswa pandai dan akftif melainkan suka cari nilai dengan berbagai cara busuk hingga elegan. Membentuk mahasiswa yang tidak kreatif dalam bertindak meski kreatif dalam menjilat.

Ah sudahlah, nampaknya hanya ada dua kemungkinan. Saya memang tidak cocok dengan para dosen di kampus saya dulu. Atau para dosen kampus yang memang tidak cocok jadi dosen saya. Meski nampaknya saya tidak sendiri.

Seperti yang ditulis oleh Bang Fertob. Ini bukan satir, ini juga bukan diplomasi, ini murni kejujuran saya tentang yang saya alami.

Advertisements

Dosen dan Status Sosial


Sebenarnya saya berniat untuk memajang foto foto dan sekalian bercerita tentang datangnya idaman hati. Namun biar nanti saja, lagi pula di sini bukan tempat yang baik buat saya untuk memajang foto. Soalnya koneksi terbatas. Maka biarlah saya bercerita tentang yang lain saja.

Dahulu kala, di saat saya masih memiliki kartu tanda pengangguran intelektual. Sering kali saya memanfaatkan beberapa keadaan guna menambah penghasilan. Mungkin lebih tepat jikalau saya katakan sebagai penambah kesenangan.

Ada jalan yang saya ambil sebagai pendekatan emosional, sehingga saya tidak perlu bayar saat naik angkutan umum buat mahasiswa. Yaitu dengan cara berkawan dengan si Abang pengemudi bus angkutan mahasiswa, sekalian jadi tukang tarik tarif angkutan. Dengan demikian, setiap kali naik angkutan mahasiswa, saya tidak perlu keluarkan ongkos. Bahkan bisa minta rokok sama si Abang.

Tidak jarang pula si Abang mengajak saya makan dan minum di warung saat waktu luang. Jadilah, saya yang seharusnya menafkahi beliau melalui pembayaran tarif angkutan mahasiswa, malahan menjadi benalu buat beliau. Kalau dipikir pikir ulang, tindakan saya sungguh menyusahkan. Namun beliau yang baik itu tidak pernah mengeluhkan hal itu. Kalaupun iya, beliau lebih suka minta tolong saya buat melakukan hal lain macam ke pasar buat membantu beliau belanja ketimbang menyoal pembayaran saya macet itu.

Bayar. Hal itulah yang saya usahakan. Saya jelas tidak mungkin buat membayar dengan uang. Sementara buat membayar ongkos angkutan saja saya harus berfikir ulang. Jadilah saya bayar dengan tenaga dan fikiran. Seperti misalnya membantu menarik ongkos, mengantarkan beliau ke beberapa tempat, atau kemudian menjadi montir tak resmi yang ikut ikutan sok sibuk waktu bus mogok. He he…

Sementara itu, di kampuspun saya menggunakan pendekatan emosional ini guna menambahkan kesenangan. Pos Parkir adalah tempat nongkrong terbaik dan paling setia menampung saya. Sekalian bisa dapat makan dan minum gratis, kenalan baru, plus bebas biaya parkir di sana seumur hidup. He he.

Bayarannya? Lagi lagi tenaga dan fikiran jadi bayaran sekedarnya. Menyumbangkan fikiran, bertukar pendapat, jadi tempat berkeluh kesah dan lain sebagainya. Sekedarnya dan semampunya saya. Hanya itulah bayaran yang dapat saya berikan buat kebaikan hati mereka mereka itu.

Si Abang sopir dan bos bos saya di pos parkir memiliki beberapa kesamaan yang mungkin sebangun tapi tidak kongruen. Pertama. Mereka semuanya berpendidikan S3 alias SD, SMP,SMA. Bahkan ada yang cuma S2. Dengan status pendidikan yang setinggi itu, adalah suatu mission impossible buat mereka untuk menaikkan pangkat mereka menjadi Gubernur atau sekedar kepala bagian.

Kedua, mereka semua dihimpit oleh kapitalisasi dan komersialisasi negara ini. Sehingga curahan hati mereka jauh dekat selalu bertujuan hampir sama: ongkos sekolah anak anak, sewa rumah, bayar listrik dan air, dan tentu saja masalah asap dapur. Masalah klasik kemanusiaan saja kalau menurut saya, meski jelas saya juga tidak bisa membantu banyak, malahan turut menambah beban mereka.

Ketiga. Pekerjaan mereka sama sama dipandang sebagai kerja kasar. Mungkin hanya sedikit lebih berkasta daripada buruh pabrik dan kuli bangunan. Plus, pekerjaan mereka memang lebih banyak menggunakan porsi otot dan kenyataan lapangan ketimbang porsi otak dan teori ruangan atau perhitungan diatas kertas.

Keempat. Sama sama seringkali diperlakukan semena mena oleh atasan. Sekalian seringkali berperang dingin dengan beberapa orang orang yang secara struktur organisasi atau kepengurusan merupakan manusia manusia berpangkat lebih tinggi daripada mereka. Meski tidak sedikit yang menjadi teman mereka sehingga sering memberikan beberapa bantuan.

Kelima. Yang ini yang paling saya salut. Sama sama lebih mementingkan kebersamaan dan kesenangan bersama ketimbang memikirkan kepentingan pribadi. Kedatangan saya buat minta rokok, numpang makan dan minum, bahkan bertandang ke rumah mereka, atau sekedar menjadi teman berbincang bincang berbagai topik adalah hal hal yang membuat mereka bahagia ditengah tengah berbagai pikiran dan suara suara minta makan anak anak mereka.

Artinya, mereka senang berteman. Juga bukan teman yang pelit meski bukan orang orang yang kelebihan duit bahkan bisa dibilang pas pasan. Bahkan tidak sungkan membantu atau jujur saat memang sangat perlu minta bantuan, namun selalu diikuti dengan “Kalau kamu bisa bantu..”.

Banyak yang saya dapatkan, banyak pula yang saya pelajari dari mereka dan pergaulan serta pengalaman bersama mereka. Dan kesamaan terakhir adalah suara yang selalu keluar dari para Tuhan Tuhan kampus bernama dosen yaitu: “Buat apa kamu berteman dengan mereka?”.

Dapat apa? Kamu dikasih uang oleh mereka? Kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengisi pos parkir? Kamu tidak punya kegiatan lain sehingga menghabiskan waktu jadi kernet bus? Ga pulang kamu, nunggu apa lagi di sini?

Paragraf diatas adalah beberapa dari serentetan pertanyaan yang seringkali saya dapatkan. Jawaban saya juga bermacam macam. Disesuaikan dengan kondisi hati dan cuaca. Kalau panas ya panas, kalau dingin ya dingin.

Meski demikian, tidak ada yang pernah bisa membatasi saya atau melarang saya untuk bergaul dengan mereka. Apalagi sampai memaksa saya pensiun berteman dengan mereka. Hingga akhirnya saya memiliki kartu terakhir saya yang menunjukkan bahwasanya saya adalah penggangguran intelektual. Sayapun berpisah dengan mereka, namun bukan berpisah untuk selamanya. Sesekali waktu saya menyempatkan diri menemui mereka.

Kegiatan saya ini diikuti oleh beberapa mahasiswa lain yang terhitung teman seangkatan dan adik angkatan saya. Hingga suatu saat mereka ditegur oleh Tuhan Tuhan kampus. Alasannya? Status sosial dan status intelektual mereka beda. Pembicaraan mereka tidak bermutu. Pergaulan mereka menjurus pada kenakalan. Dan lain sebagainya.

Dulu, saya tidak pernah ditegur sampai sebegitu. Entah karena para Tuhan Tuhan kampus tidak berani. Entah karena mereka menganggap akan sia sia saja menceramahi saya. Atau karena mereka memang belum menemukan alasan seperti yang mereka kemukakan kemudian. Sayapun tak mengerti.

Yang saya mengerti hanyalah: para Tuhan Tuhan kampus itu berpandangan picik, menganggap intelektualitas adalah segalanya. Buku serta teori selalu bisa menjadi bahan acuan, serta menggap remeh kenyataan yang terjadi di masyarakat, terutama yang kelas ekonomi menengah ke bawah.

Padahal, dari apa yang saya alami, banyak pelajaran tidak resmi yang bisa diambil. Bahwasanya orang pintar belum berarti pandai memikirkan perasaan orang lain, apalagi keadaan ekonomi orang lain. Pembicaraan tidak harus selalu mengenai hal berat dan akademis, pembicaraan santai bisa menjadi bahan yang menarik. Buku dan teori tidak selalu sama dengan kenyataan di lapangan. Dan orang kaya belum tentu bersikap dan bersifat lebih mulia ketimbang orang miskin.

Kalau jadi mahasiswa, rajin rajinlah belajar. Dan itu semua bisa didapatkan melalui ruangan kuliah, buku, dan ceramah dari Tuhan Tuhan kampus. He he he….

Diskusi Singkat


A: Sudah baca artikel ini?
B: Sudah
A: Aku merasa tersinggung! Penulisnya sudah mempublikasikan tentang diriku tanpa izin terlebih dahulu
B: Maksud anda?
A: Iya. Ceritanya itu! Sama persis dengan cerita yang kualami di dunia nyata
B: Maksudnya soal kebiasaan anda menghianati pasangan?
A: Iya! Maunya apa sich tu orang?!!
B: Ya jelas! Maunya nulis. 😀
A: Bukan begitu. Kenapa harus kebiasaanku yang di bawa bawa? Pakai bawa bawa para korbanku pula!
B: Memangnya anda tersinggung?!
A: Bukan. Saya malah bangga. Makin terkenal sebagai orang yang suka selingkuh
B: Lantas? Apa masalahnya buat anda?
A: Saya kasian dengan wanitanya
B: Masih memikirkan perasaan para wanitanya?
A: Dikit aja. Ga banyak banyak.
B: Lho? Jadi apa gunanya anda marah marah?
A: Iya ya? *tampang bego*
B: Lagipula anda terlalu jumawa. Bukan hanya anda playboy di dunia ini.
A: Iya juga. Masih banyak pria lain yang lebih ganteng dan pacarnya gonta ganti.
B: Lalu?
A: Ah sudahlah… Lagipula sekarang saya sudah punya pacar baru lagi.

Pesan moral: Don’t try this at home! 😀 . Laki laki yang menduakan wanita itu tidak hanya ada satu di dunia ini. Wanita yang diduakan itu tidak hanya dua di dunia ini.

*Postingan paling tidak bermutu sepanjang sejarah fortynine.wordpress.com berdiri.*


Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 223 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 223 other followers

Twitter

  • @pln_123 Telah terjadi pemadaman lampu selama 2 jam lebih d wilayah Banjarbaru, kalimantan selatan 5 months ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader

Advertisements

%d bloggers like this: